Masyarakat agraris, seperti Indonesia, memiliki karakteristik yang khas. Karakteristik yang nampak menonjol adalah perbedaan budaya tiap masyarakat yang berbeda. Hal ini berkaitan erat dengan kenyataan bahwa budaya material dan immaterial memiliki hubungan dengan karakteristik masyarakatnya, baik sebagai masyarakat padi sawah, lahan kering atau masyarakat nelayan. Untuk itu diperlukan suatu pemahaman mengenai bentuk perbedaan budaya suatu desa.
Masyarakat
Masyarakat sebagai komunitas (cummunity) adalah kelompok orang yang
terikat oleh pola-pola interaksi karena kebutuhan dan kepentingan bersama untuk
bertemu dalam kepentingan mereka. Definisi ini merujuk dari pengertian
komunitas yang menurut Horton (1992) adalah suatu kelompok setempat atau local
dimana orang melaksanakan segenap kegiatan (aktivitas) kehidupannya.
Masyarakat (sebagai terjemahan society) adalah sekelompok orang
yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian
besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok
tersebut. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan
hubungan-hubungan antar entitas-entitas.
Kata society berasal dari bahasa latin, societas, yang berarti
hubungan persahabatan dengan yang lain. Societas diturunkan dari kata socius
yang berarti teman, sehingga arti society berhubungan erat dengan kata sosial.
Secara implisit, kata society mengandung makna bahwa setiap anggotanya
mempunyai perhatian dan kepentingan yang sama dalam mencapai tujuan bersama.
Menurut Syaikh Taqyuddin An-Nabhani, sekelompok manusia dapat
dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta
sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian
berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.
Elemen-elemen dalam Masyarakat
Istilah elemen menyatakan
suatu bagian pokok atau dasar dari kesatuan yang lebih besar. Satuan-satuan
interaksi sosial yang ada dalam masyarakat akan membentuk struktur sistem
sosial itu sendiri. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian-bagian yang menyatu
di dalam sistem sosial.
Sebagai suatu sistem sosial, masyarakat juga memiliki elemen-eleman
dasar, yaitu:
1.
penduduk
(orang), terikat secara paternal, hubungan darah, ascribed status maupun
achievement status.
2.
wilayah,
terdapat masyarakat setempat , ada interaksi antara penduduk dan wilayahnya.
Wilayah inilah yang membedakan antara community dengan society, dimana society
merupakan penduduk dalam arti luas yang tidak terikat dengan tempat tinggal
atau teritori, misal: masyarakat civitas akademika.
3.
interaksi
4.
kepentingan
bersama
5.
kebutuhan
bersama
Kebudayaan
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu
buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan
sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa
Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu
mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau
bertani. Kata culture diterjemahkan "kultur" dalam bahasa Indonesia.
Sejarah kemanusiaan menurut perspektif arkeologi modern, terbagi
menjadi dua jaman, yaitu jaman food gathering (memanfaatkan hasil alam secara
liar) dan food producer (telah mengembangkan budidaya tanaman dan ternak).
Menurut Keesing (1985), perubahan terjadi setelah manusia menemukan cara
peleburan logam (‘the first technological revolution’ atau food producing
revolutian’) yang terjadi 12 ribu – 10 ribu tahun yang lalu di Timur Tengah
selatan laut kaspia utara Irak atau Iran kemudian menyebar ke seluruh dunia.
Karakteristik Masyarakat Desa
Karakteristik masyarakat desa di perdesaan dapat dilihat dari sisi
demografi, Ekonomi, Sosial-budaya dan Psikologi masyarakat atau psiko-sosial.
Berdasarkan hal tersebut maka masyarakat desa memiliki karakteristik:
- Hidup adalah persoalan kelangsungan hidup
- Tanah/lahan adalah dasar utama dalam
kehidupan
- Keluarga dalam jumlah besar dan fokus
utama kehidupan sosial
- Kehidupan desa adalah mengatur masyarakat
sekitar
Tipologi Masyarakat Agraris Menurut Pola Adaptasi Ekologi
Terbentuknya kebudayaan dalam suatu masyarakat tidak dapat
dilepaskan dari kondisi lingkungan dimana masyarakat tersebut bertempat
tinggal. Kebudayaan perahu tidak akan kita temukan pada masyarakat pedalaman,
karena jauh dari laut atau tidak memiliki sungai besar yang dapat digunakan
untuk menjalanjkan perahunya. Tetapi kebudayaan perahu akan kita temukan pada
masyarakat yang dekat dengan laut atau memiliki sungai untuk menjalankan
perahunya.
Masyarakat agraris, baik masyarakat agraris awal maupun modern
(masyarakat pemburu peramu, masyarakat peladang berpindah dan masyarakat petani
sawah irigasi) memiliki pola adaptasi yang berbeda. Perbedaan ini dapat dilihat
dari budidaya tanaman yang dilakukan, pengolahan lahan, pola tempat tinggal,
subsistensi, pola pemukiman dan diferensiasi sosial.
Suatu masyarakat agraris memiliki karakteristik yang khas yang akan
memberikan ciri kebudayaan yang khas pula. Masyarakat agraris yang memiliki
hubungan dengan tanah dan air secara erat yang juga berkaitan dengan kedudukan
sosial, usahatani bersifat subsisten (keluarga) merupakan dasar pemilikan
produksi, konsumsi dan kehidupan sosial. Kondisi yang sekilas merupakan
kelemahan masyarakat agraris, sebenarnya merupakan suatu kekuatan tersembunyi
masyarakat agraris.
--------------------
Rangkuman dari Buku (Eko Murdiyanto, Sosiologi Perdesaan, Edisi I – Yogyakarta: UPN “Veteran” Yogyakarta 2008.)


